Tak dapat dipungkiri jika setiap manusia, selalu ingin menjadi yang terbaik dari manusia lainnya. Satu sama lainnya bersaing memperebutkan predikat terbaik. Menjamurnya iklan/ slogan di media cetak maupun elektronik, yang menganjurkan kita untuk punya daya saing tinggi, berkontribusi meningkatkan terjadinya hal di atas. Begitu juga dengan sikap para penguasa di berbagai negara, yang senantiasa memperebutkan predikat negara paling maju di dunia, semakin memicu terjadinya persaingan sesama manusia untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik.
Hal di atas pada gilirannya menggiring kita pada sebuah opini bahwa, kemenangan atau prestasi hanya bisa dicapai, jika kita mampu mengalahakan orang lain. Dengan kata lain, hanya dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri, dan bersaing melawan/ menentang orang lain, kita layak disebut berprestasi. Kesuksesan dan prestasi, selalu diidentikkan dan diukur dengan, kemenangan kita berkompetisi dengan orang lain
Sehubungan dengan hal di atas, dalam setiap permainan pasti ada yang menang dan yang kalah. Pihak yang kalah biasanya berkecil hati. Sementara yang menang berbangga diri. Dengan demikian hal ini sebenarnya secara langsung atau tidak, telah menimbulkan sindrom menang-kalah. Bukankah demikian? Jika benarnya adanya, dan supaya sindrom menang-kalah tidak terjadi, dengan siapakah seharusnya kita berkompetisi? Siapakah pesaing terbaik kita sesungguhnya?
Billi PS Lim pernah mempertanyakan, jika bersaing dengan diri sendiri, dan ternyata kita kalah, siapakah yang menang? Tolong Anda pikirkan, dan cari jawabannya! Ya, diri sendiri adalah pesaing Anda yang terbaik, bukan orang lain. Orang lain hanya sekedar ukuran dan pembanding, tak lebih dari itu. Hal ini bukan berarti jika kita tidak boleh punya daya saing. Kita harus punya daya saing, tapi, sekali lagi bersainglah dengan diri sendiri.
Jika berkompetisi dengan diri sendiri,
selain bisa menghindari kekecewaan dan perasaan iri hati melihat kesuksesan orang lain, kita juga bisa menetapkan target/ tujuan yang ingin dicapai sesuai batas kemampuan yang dimiliki. Target bisa ditetapkan secara bertahap. Setelah target pertama dicapai, kita dapat menetapkan dan melangkah pada target berikutnya. Demikian seterusnya, hingga kualitas diri, tanpa disadari makin lama makin meningkat.Sebaliknya, jika berkompetisi dengan orang lain dengan maksud meniru semua kesuksesannya, paling hebat kita hanya akan menjadi seperti orang yang akan ditiru tersebut. Tapi biasanya, imitator pasti berada di bawah standar. Produk imitasi (tiruan) pasti mempunyai kelemahan dengan produk aslinya. Hasil fotocopy pasti jauh lebih rendah dari naskah aslinya. Begitulah perumpamaan seseorang yang meniru dan bermaksud mengalahkan kesuksesan orang lain. Untuk memulai langkah awal, boleh saja kita mengacu dan meniru kesuksesan orang lain, namun untuk selanjutnya, lebih baik melangkah sesuai batas kemampuan yang dimiliki. Karena setiap orang punya sifat, cara kerja serta kemampuan yang berbeda. Tidak ada manusia yang persis sama. Bahkan, bayi kembar siam pun, memiliki banyak perbedaan dalam berbagai hal. Untuk itu, lebih baik menjadi diri sendiri yang terbaik!
Berkaitan dengan hal di atas untuk mencapai suatu prestasi, lebih baik kita bekerjasama (bekerja bersama-sama) dengan orang lain, bukan berkompetisi dengan mereka. Hal ini sesuai dengan temuan Dr. Robert Helmreich, ahli psikologi Universitas Texas, yang mengatakan bahwa: kerjasama dengan orang lain lebih berhasil daripada bersaing dan menentang orang lain. Dalam bahasa sederhana dapat Saya katakan: target penjualan suatu perusahaan akan lebih mudah dicapai, jika semua tim yang terlibat di dalamnya, dapat bekerjasama dengan baik. Bukan saling mencurigai dan sentimen satu sama lainnya. Sinkronisasi yang solid antara atasan dan bawahan akan mempercepat proses pencapaian tujuan yang ditetapkan perusahaan.
Anda pasti sudah tahu dua pribahasa berikut ini : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Agaknya kedua pribahasa ini berkaitan dengan hal di atas. Jika membersihkan sampah yang bertebaran di pekarangan rumah dengan satu buah lidi, sangat mustahil dilakukan. Tapi, jika beberapa buah lidi dihimpun menjadi satu untuk dijadikan sapu, sampah yang bertebaran akan lebih cepat dibersihkan. Bukankah lidi juga bersatu dan bekerjasama untuk mempercepat proses pencapaian tujuan?

Bahan bacaan:
Buku No Pain No Gain, Karangan Johanes Lim, Ph.D, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000; Buku Berani Gagal, Karangan Billi PS Lim, Penerbit Pustaka Delapratasa, Jakarta,1998.
BACA JUGA OPINIKU TENTANG Kegagalan DISINI
0 komentar:
Poskan Komentar