Jumat, 21 Mei 2010

Pekerjaan



Seorang teman gundah gulana. Wajahnya berselimut duka. Matanya sedikit berkaca-kaca. Lamarannya untuk gadis tercinta, ditolak sang calon mertua. Apa masalahnya? Sang teman hanya kerja serabutan. Tidak punya gaji tetap seperti orang kantoran. Sementara calon mertua, menginginkan anak gadisnya dipersunting seorang karyawan.

Sedih juga melihat nasib sang teman. Dia yang kukenal begitu ulet, tangguh, dan punya kreatifitas tinggi, harus terpinggirkan ketika menyatakan cinta. Tercampakkan oleh sebagian orang yang kurang tepat mendefinisikan "kerja". Kenapa begitu? Bukankah selama ini, sebagian masyarakat kita selalu mengidentikkan "pekerjaan", dengan sosok orang-orang berdasi, punya kantor, punya gaji tetap, punya mobil dan sebagainya? Orang-orang yang berada di luar kategori di atas, meskipun sudah punya penghasilan, sering dianggap belum bekerja. Apakah kita tidak terjebak pada kemasan belaka?

Seorang penjual sembako di pasar tradisional tidak punya kantor, tidak punya dasi, bahkan terkadang jarang mandi (mungkin...he...he..) Sambil berjongkok ria (mancangkuang-red), dengan celana pendek dilengkapi sendal jepit di kakinya, dia menawarkan barang dagangannya. Tapi percayakah kita, jika penghasilannya tiap bulan kadang-kadang bisa melebihi gaji yang diterima seorang staff/ karyawan suatu perusahaan? Bukankah dia juga pekerja?

Tapi apa mau dikata. Palu sudah terlanjur diketuk. Alasan apapun tak bisa ditolerir. Keputusan calon mertua tak bisa diganggu gugat. Meskipun jalinan cinta sudah lama mereka bina, keadaan ini tak mampu mengubah keputusan mutlak sang calon mertua. Akhirnya, temanku makin bingung dalam kesendiriannya. Kubujuk dia sambil berkata, "Sabar, selalu ada jalan keluar dari setiap persoalan". Kasihan.

Menarik membicarakan masalah "pekerjaan" sehubungan dengan kisah teman Saya di atas. Kecenderungan sikap dan berpikir kita selalu mengacu pada orang-orang disekitar kita. Begitu juga mengenai pilihan profesi/ pekerjaan yang akan digeluti dimasa datang. Jika orang tua kita pegawai, kita juga termotivasi untuk jadi pegawai. Jika orang tua kita pedagang, kita juga termotivasi untuk jadi pedagang. Jika orang tua kita presiden, kita juga termotivasi untuk menjadi presiden. (he...he...he). Hal ini lumrah dan sah-sah saja.

Disisi lain, sebagian orang tua terlalu takut jika anaknya kelak tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. Maka berlomba-lombalah para orang tua memasukkan anak-anaknya ikut kursus (belajar tambahan). Agar anaknya kelak bisa memenangkan "pertandingan" dalam persaingan bursa kerja yang semakin ketat. Saya tidak mengatakan hal ini tidak bagus. Malahan, saya mendukung orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Namun, alangkah baiknya dalam menuntut ilmu, kita tidak mengabaikan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Sebab menurut Saya, tujuan pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan semata. Ada tujuan mulia dari ilmu dan pengetahuan yang kita tuntut, yakni mengubah pola pikir manusia ke arah yang lebih positif, memperbaiki akhlak, mengembangkan bakat, serta menggali potensi yang dimiliki seseorang. Tapi sekarang, bagi sebagian orang, tujuannya memasuki perguruan tinggi, agaknya hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Lalu, begitu hinakah orang-orang yang tidak bekerja? Kenapa masyarakat kita memandang sebelah mata para sarjana yang masih menganggur?

Bagi sebagian orang, apalagi yang sudah berstatus sarjana, tidak punya pekerjaan mungkin sangat memalukan. Apalagi mendengar omelan tetangga dan orang tua yang sedikit memojokkan. Karena tak tahan mendengar sindiran tetangga dan orang tua, berbondong-bondonglah para sarjana melamar kerja ke berbagai instansi yang diinginkannya. Sementara instansi bersangkutan, hanya membutuhkan beberapa orang saja dari ribuan pelamar yang ada. Dan sudah pasti, yang dipilih adalah orang-orang terbaik, dari sekian banyak yang baik. Kecuali jika calon pekerja, dipilih lewat jalur lainnya, seperti kolusi dan nepotisme. Itu lain lagi ceritanya.

Ketika sebagian besar sarjana kasak kusuk mencari kerja, sebagian kecil sarjana lainnya mencoba berdamai dengan keadaan. Mereka memanfaatkan waktu belum bekerja dengan hal-hal positif. Seperti mencari ide yang mungkin dapat dikembangkan. Ide tersebut pada akhirnya dapat dituangkan dalam sebuah karya. Tidak tertutup kemungkinan, jika karya yang dihasilkan bisa dijadikan sumber penghasilan bagi sarjana bersangkutan. Mereka tidak terlalu merisaukan keadaan tidak bekerja. Karena mereka yakin, keadaan ini hanya berlangsung sementara. Mereka tinggalkan sesaat, perlombaan mencari kerja. Karena mereka yakin, tujuan utama mereka kuliah dulu, bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan semata. Dan keadaan sekarang (belum bekerja), bagi mereka bukanlah keadaan sebenarnya.

Menarik memperhatikan pola pikir sebagian kecil sarjana di atas. Tak banyak mungkin yang menyukainya. Padahal, dengan ketenangan berpikir disaat menganggur, biasanya ide-ide segar bermunculan. Perlu disadari bahwa, survei menunjukkan bahwa, faktor kecerdasan seseorang yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan hanya sekitar 20% saja. Selebihnya yakni 80%, ditentukan oleh faktor lainnya seperti kesabaran, ketabahan, keuletan, keinginan bekerjasama dengan orang lain, keberanian menanggulangi risiko dan sebagainya. Tapi sekarang, tampaknya hal ini agak luput dari pengamatan kita. Kecenderungan sekarang, kebanyakan orang terburu-buru meraih sukses. Dan kebanyakan para sarjana berlomba-lomba untuk menjadi pegawai.

Berkaitan dengan hal di atas, sebenarnya kita tidak perlu merisaukan keadaan sekarang yang tidak/ belum bekerja. Masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai kesuksesan. Tidak satu jalan ke Roma. Begitu kata orang bijak. Masih banyak tempat untuk berkarya. Tempat untuk mencari duit bukan hanya berada di perkantoran. Jika merasa lelah bersaing dengan pelamar lainnya, sudah saatnya mencoba memutar haluan. Kalau yakin dan percaya, begitu banyak peluang yang bisa diambil seorang sarjana untuk berkarya dan meniti karirnya. Asal mau melakukan dan jeli melihatnya, peluang itu pasti ditemukan.

Jika semua sarjana berlomba-lomba mencari kerja, siapa yang akan menciptakan lapangan kerja? Jawabannya mungkin Anda sudah tahu, yakni orang-orang yang tidak sempat mendapatkan pendidikan tinggi. Mereka terpaksa mengubah nasib dengan melakukan apa saja yang mereka bisa. Karena terlahir dari keluarga tak punya, mereka terpaksa berjuang melakukan apapun untuk melanjutkan hidup. Tak aneh jika membaca riwayat hidup beberapa orang pengusaha sukses, Anda akan menemukan bahwa, beberapa orang di antara mereka, tidak memiliki pendidikan tinggi. Tapi mereka mampu memberikan pekerjaan kepada ribuan sarjana. Lalu, kenapa para sarjana yang punya intelektualitas tinggi, belum mampu (belum banyak) yang mau menciptakan lapangan kerja?

Sebagai penutup, beberapa point dapat Saya kemukakan : Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Namun jangan sampai mengaburkan makna dan tujuan sesungguhnya dari ilmu yang kita pelajari tersebut. Letakkanlah definisi pekerjaan/ profesi pada porsi sesungguhnya. Karena pekerjaan, bukan hanya terkait dengan istilah kantor, instansi, perusahaan, dan lain sebagainya. Bagi yang belum bekerja, jangan menyerah, begitu banyak peluang kerja yang bisa diraih. Asal mau melakukan dan tabah menjalaninya, peluang itu pasti ditemukan. Bagi yang sudah bekerja, jalanilah pekerjaan dengan kesungguhan. Namun jika sudah jenuh dengan pekerjaan sekarang, Anda pasti tahu pilihan terbaik lainnya.

Mohon maaf, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menggurui siapapun juga. Sebab Saya bukanlah seorang konsultan. Saya hanya belajar membagi yang ada dipikiran ini. Keputusan mengenai pilihan dan definisi pekerjaan tetap berada pada diri Anda sendiri. Selamat mengambil keputusan!


BACA JUGA TULISANKU TENTANG Keajaiban Telapak Tangan DISINI



0 komentar:

Poskan Komentar