Selasa, 27 April 2010

Takut Gagal



Ketika hendak memulai bisnis atau usaha baru, setiap orang sering ragu dan takut untuk melakukannya. Bermacam pertanyaan sering mengganggu. Bagaimana nantinya kalau Saya gagal? Apakah tidak ada cemooh dari orang lain, kalau ternyata Saya gagal di belakang hari? Ya memang begitu banyak pertanyaan yang tidak mampu untuk dijawab.

Pertanyaan di atas lumrah. Apalagi bagi orang yang benar-benar buta sama sekali tentang bisnis yang akan digelutinya. Takut Gagal. Itulah sikap yang kian hari, kian berhembus di masyarakat kita. Bahkan, sampai hari ini sikap itu kian berhembus. Benarkah demikian? Kalau tidak percaya, hitunglah jumlah orang yang gagal dan jumlah orang yang sukses di jagat raya ini? Mana yang lebih banyak jumlahnya? Orang gagalkah? Atau orang sukseskah?

Anda mungkin setuju dengan Penulis, bahwa yang terbanyak jumlahnya adalah orang yang gagal. Kenapa lebih banyak orang yang gagal? Penulis berani berasumsi, salah satu penyebabnya adalah selalu "memelihara" sikap takut gagal. Orang takut untuk memulai hal baru. Takut melakukan perubahan, karena selalu terbelenggu oleh sikap takut akan gagal. Karena sudah sekian lama terbelenggu, tak jarang seseorang membatalkan apa yang sudah direncanakannya. Dengan demikan satu langkah awal menuju sukses telah berhenti.

Apakah kegagalan itu perlu ditakuti? Takut kepada kegagalan adalah manusiawi. Namun kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Kegagalan adalah proses. Kegagalan adalah peluang menuju sukses. Karena kegagalannyalah, menjadikan seseorang mencari penyebab dari kegagalannya itu. Jika tidak pernah gagal, seseorang tidak akan pernah "mencari" penyebab kegagalannya. Dengan demikian, kegagalan sebenarnya merupakan "peluang" untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, yakni mencari penyebab kegagalan itu sendiri. Dengan mempelajari penyebab kegagalan, kemungkian terjadinya kegagalan serupa, akan semakin berkurang. Berikut uraian sederhana penulis, sehubungan dengan faktor kegagalan yang dapat menyebabkan kesuksesan.

Kegagalan tidak perlu ditakuti. Yang perlu ditakuti sebenarnya adalah sikap takut akan kegagalan. Kalau kita sudah mengidap penyakit "takut akan kegagalan", berbagai peluang di depan mata hilang begitu saja. Bagaimana supaya kita tidak takut kepada kegagalan? Janganlah kegagalan dianggap sebagai aib. Kegagalan bukanlah momok yang patut ditakuti. Kegagalan adalah satu tahap awal menuju keberhasilan.

Jika sikap takut gagal terus "dilestarikan", kita tidak akan pernah memulai. Jika tidak memulai, kita tidak akan mendapatkan hasil. Kita juga tidak akan pernah tahu "potensi diri" yang dimiliki, jika tidak mencoba untuk memulai. Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Jika dalam satu hari, satu orang selalu bersikap "menunda untuk memulai", maka dalam setahun, jumlah orang gagal (selalu menunda untuk sukses), akan bertambah menjadi kelipatan 365 orang. Bukankah hal itu berbahaya? Tidak bisakah kita ubah paradigma ini?

Ribuan tokoh besar telah berhasil melewati kegagalannya dengan semangat pantang menyerah. Di antaranya Thomas Alfa Edison (1879). Ia berulang kali melakukan percobaan, dan berulang kali melakukan kesalahan. Sampai akhirnya, dia berhasil menciptakan lampu pijar yang bisa menerangi kita sampai hari ini.

Soichiro HONDA, berulang kali menghadapi kegagalan, sampai ia pernah berkata "Yang dilihat orang pada kesuksesan saya hanya 1%, tetapi apa yang tidak mereka lihat adalah 99%, yaitu kegagalan-kegagalan saya". Tapi sekarang, tidak ada yang tidak kenal HONDA.

Dari pengalaman tokoh besar di atas dapat disimpulkan, tak mudah mereka mencapai kesuksesan. Berulang kali kegagalan ditemui. Tapi mereka tidak berhenti. Mencari dan terus mencari. Tak jemu lagi mengulangi kesalahannya. Sampai kebenaran, kemenangan dan kesuksesan sejati, betul-betul ditemui. Itulah kepuasan paling hakiki.

Akhirnya, penulis hanya dapat berkata : lakukan apa bisa dilakukan! Lakukan apa yang sudah direncanakan! Lakukan setapak demi setapak untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Perjalanan satu kilometer, tidak mungkin dicapai, jika tidak dimulai dengan ayunan langkah pertama. Lakukan sesuai kemampuan yang dimiliki, karena setiap kejadian pasti ada prosesnya.

Jangan terpengaruh oleh tindakan, pikiran dan ucapan orang lain. Sebab setiap orang punya "kekuatan sendiri" berupa sifat, karakteristik, dan cara tersendiri yang bisa "diasah" dan dikembangkan seluas-luasnya, untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jika gagal dalam mencoba, teruslah mencoba lagi! Buat kesalahan dan kegagalan lebih besar lagi! Jangan hiraukan perkataan dan sikap orang lain yang melemahkan semangat Anda. Kebaikan dan keburukan yang kita lakukan, pasti dinilai orang dari segi positif dan negatifnya. Jadi lakukan saja!

Banyaknya kegagalan yang kita alami, bukan berarti kita akan gagal untuk selamanya dalam berbagai hal. Tapi sebenarnya kita berhenti untuk mencoba lagi. Dan sesungguhnya kita hanya berada "disatu belokan", bukan di penghujung jalan. Jika satu pintu tertutup, maka pintu lainnya akan terbuka, begitu filosofi dan keyakinan, yang selalu dipegang teguh seorang marketing. Tak ada salahnya filosofi ini kita anut guna menyemangati diri dalam berupaya meraih hasil. Dan ingatlah! Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan. Di balik derai air mata, pasti ada bening mata air.

Jangan terlalu memikirkan hasil, tapi pikirkanlah selalu yang sudah dan akan kita lakukan untuk membuahkan hasil, yang lebih baik dan banyak dimasa datang. Jika menanam benih yang baik, pasti akan membuahkan hasil yang baik pula. Jika selalu berupaya membuahkan hasil, ia pasti akan datang dengan sendirinya. Kita mungkin tidak tahu. Tapi hasil pasti akan datang disaat dan waktu yang telah ditetapkan-Nya. Seperti waktu jodoh, maut, dan rezeki yang sudah ditetapkan-Nya untuk kita. Kita tidak pernah tahu. Kita hanya disuruh berusaha, lalu berdoa.

Dalam berusaha membuahkan hasil ingatlah selalu, semakin banyak kegagalan yang datang menimpa, maka sesungguhnya kita akan semakin dekat dengan tujuan dan harapan yang diinginkan. Karena disitu terdapat "proses pembelajaran" yang bisa mencerdaskan. Maka teruslah berbuat kesalahan! Karena manusia hanya belajar dari kesalahan dan kegagalan. Begitu banyak hal/ masalah yang bisa dipelajari dari sebuah kegagalan. Sebaliknya, tidak seberapa hal/ masalah yang bisa dipelajari dari sebuah kesuksesan. Dengan kata lain, seseorang yang sering mengalami kegagalan, akan senantiasa termotivasi mencari penyebab dan solusi atas kegagalannya. Jadi, bukankah pengalaman gagal, sebenarnya jauh lebih berharga daripada pengalaman sukses? Bukankah kegagalan merupakan proses yang harus dihadapi dan disiasati untuk mencapai kesuksesan? Lalu, kenapa mesti takut lagi pada kegagalan?

Dari uraian mengenai kisah dua orang tokoh besar di atas, terlihat bahwa banyaknya kegagalan yang mereka alami, pada akhirnya membuahkan kesuksesan yang sejati. Tidak berlebihan rasanya, jika penulis berani berkata bahwa kesuksesan yang dilahirkan dari ribuan kali kegagalan, sudah pasti menghasilkan kesuksesan yang sangat luar biasa. Ironisnya, yang gagal terlalu dihina, yang sukses terlalu dipuja, itulah kenyataan yang sudah sejak lama berlaku, pada sebagian masyarakat kita. Sudah saatnya kita ubah pola pikir seperti ini!

Akhirnya banggalah pada apa saja yang sudah Anda miliki. Bersedih hati pada apa saja yang belum Anda miliki, pada hakekatnya akan menyia-nyiakan apa saja yang sudah Anda miliki. Syukurilah semua karunia-Nya. Berikanlah dukungan yang tulus bagi mereka yang selalu gagal (belum berhasil) meraih mimpi. Hargailah keringat dan air matanya. Keringatnya adalah perjuangan. Air matanya adalah pengorbanan. Mereka jauh lebih berharga, ketimbang mereka yang hanya bisa mencaci. Bukan zamannya lagi mencaci mereka yang mau bermimpi.

Mari merangkak lagi meraih mimpi!
Buang ragu yang singgah di hati!
Biarkan bimbang berlalu pergi!
Agar "senandung" datang kembali!


Semoga bermanfaat bagiku dan bagimu
Bacaan : dari berbagai sumber, terutama Buku Berani Gagal, karangan Billi PS. Lim, Penerbit Delapratasa, Jakarta, 1998


BACA JUGA OPINIKU TENTANG Pekerjaan DISINI

0 komentar:

Poskan Komentar