Kamis, 11 November 2010

Cara Menambahkan Name dan Url Pada Komentar Blogspot



Secara default komentar pada blogspot tidak mencantum Name dan Url serta Anonymous. Hal ini memberi sedikit "kerugian" kepada pemilik blogspot. Yakni jika pengunjung yang ingin memberi komentar pada blogspot, maka ia harus punya akun google (email gmail). Lalu, bagaimana jika pengunjung blogspot ingin berkomentar, tapi tidak punya email Gmail?.

Untuk mengatasi masalah di atas, sebaiknya Anda menambahkan submenu Name, Url, serta Anonymous pada kotak komentar blogspot Anda. Hal ini bertujuan agar pengunjung yang belum punya email Gmail juga dapat berkomentar pada blogspot Anda, dengan opsi (pilihan) Name/URL ataupun Anonymous.

Untuk menambahkan sub menu di atas, Log ini Blogspot, Pilih Settings>Comments>Anyone sesuai Gambar 1 di bawah. Gambar 2 adalah kondisi kotak komenter sebelum penambahan sub menu. Gambar 3 adalah kondisi kotak komentar setelah penambahan sub menu. Semoga bermanfaat

Gambar 1



Gambar 2



Gambar 3


Dikutip dari :
http://29101996.blogspot.com/2010/06/menambahkan-nameurl-di-kotak-komentar.html

Jumat, 02 Juli 2010

Cara Daftar dan Verifikasi PayPal


Jika Anda tertarik mencari sumber pendapatan di internet dengan mengikuti berbagai macam program PTC (Paid To Click) Dollar atau sejenisnya, maka Anda harus punya rekening PayPal dulu. PayPal tersebut nantinya digunakan untuk menerima komisi Anda dari program Dollar yang diikuti. Secara garis besar, cara kerja dari program-program Dollar di internet adalah mengklik iklan-iklan, artikel, dan email yang dikirim ke alamat email kita, lalu mengajak orang lain untuk bergabung mengikuti program tersebut. Dengan menganjak orang lain akan memperbanyak jumah referal yang kita miliki. Semakin banyak referal, semakin tinggi pula komisi yang kita terima dari program yang kita ikuti tersebut. Untuk itulah diperlukan PayPal sebagai sarana bertransaksi on line di internet. Berikut akan Saya jelaskan cara daftar PayPal,

Untuk daftar PayPal, klik link banner yang bertuliskan PayPal for Business di bawah ini (sebelum mengklik, sebaiknya Anda baca dulu sampai selesai, lalu mencatat langkah-langkahnya).

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.



Setelah mengklik gambar di atas, akan muncul gambar di bawah ini :


Klik Sign Up Today, maka akan muncul seperti gambar di bawah ini :


Klik Ged Started (bagian Premier), maka akan muncul seperti gambar di bawah ini


Isi data bio data tersebut dengan data sebenarnya. Sebaiknya gunakan Email gmail untuk mengisi Email address. Ciptakan password baru, bukan password lama gmail Anda. First Name = nama awal, middle name = nama tengah, kalau tidak ada kosongkan saja, Last name = nama akhir, MM = isi dengan bulan lahir Anda, DD = isi dengan tanggal lahir Anda, YY = isi dengan tahun kelahiran Anda, Address Line 1 = isikan alamat lengkap Anda, Address Line 2 = kosongkan saja, City = kota, State = propinsi, Post code = kode pos, Telp = isikan no hp Anda, misalnya : 628137448XXXX.

Setelah data diisi dengan lengkap, Klik Agree and Create Account. Jika semua data sudah diisi dengan benar, Anda sebenarnya sudah berhasil membuat rekening PayPal. Tapi rekening Paypal Anda belum diverifikasi alias belum bisa digunakan untuk bertransaksi on line. Nah, untuk proses verifikasinya, bisa Anda lihat panduannya dengan mengklik gambar (link) berwarna merah di bawah ini. Verifikasi ini khusus bagi Anda yang belum punya kartu kredit. Semoga bermanfaat.

Cara Instan Untuk Verifikasi PayPal !

Baca juga cara mempromosikan PayPal yang sudah diverifikasi di sini

Kamis, 01 Juli 2010

Cara Download Microsoft Office FrontPage 2003


Software Microsoft Office Frontpage 2003 digunakan untuk membuat Website. Berikut Saya akan menjelaskan cara download software dimaksud.

Untuk mendownload Microsoft Frontpage 2003, klik tulisan Download Frontpage di bawah, namun sebelum mengklik, sebaiknya Anda baca sampai selesai, dan mencatat langkah-langkahnya.

Download Frontpage


Setelah mengklik tulisan Download Frontpage di atas, akan muncul gambar seperti ini :



Lalu Anda klik microsoft- frontpage 2003.exe, maka akan muncul gambar seperti ini



Isi kode sesuai yang tertera, lalu klik download file, akan muncul gambar seperti ini


Tunggu beberapa detik akan muncul Regulard Download, klik Regular download



Setelah itu akan muncul gambar berikut



Klik Save File. Karena jumlah file cukup besar yakni 193 MB, maka dibutuhkan waktu sekitar satu sampai satu setengah jam untuk mendownloadnya. Tunggu sampai prosesnya selesai. Mengenai cara installnya, lakukan seperti biasa, kode produk juga tertera pada folder yang telah didownload tersebut.




Rabu, 09 Juni 2010

Sapu Lidi



Tak dapat dipungkiri jika setiap manusia, selalu ingin menjadi yang terbaik dari manusia lainnya. Satu sama lainnya bersaing memperebutkan predikat terbaik. Menjamurnya iklan/ slogan di media cetak maupun elektronik, yang menganjurkan kita untuk punya daya saing tinggi, berkontribusi meningkatkan terjadinya hal di atas. Begitu juga dengan sikap para penguasa di berbagai negara, yang senantiasa memperebutkan predikat negara paling maju di dunia, semakin memicu terjadinya persaingan sesama manusia untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik.

Hal di atas pada gilirannya menggiring kita pada sebuah opini bahwa, kemenangan atau prestasi hanya bisa dicapai, jika kita mampu mengalahakan orang lain. Dengan kata lain, hanya dengan mengutamakan kepentingan diri sendiri, dan bersaing melawan/ menentang orang lain, kita layak disebut berprestasi. Kesuksesan dan prestasi, selalu diidentikkan dan diukur dengan, kemenangan kita berkompetisi dengan orang lain

Sehubungan dengan hal di atas, dalam setiap permainan pasti ada yang menang dan yang kalah. Pihak yang kalah biasanya berkecil hati. Sementara yang menang berbangga diri. Dengan demikian hal ini sebenarnya secara langsung atau tidak, telah menimbulkan sindrom menang-kalah. Bukankah demikian? Jika benarnya adanya, dan supaya sindrom menang-kalah tidak terjadi, dengan siapakah seharusnya kita berkompetisi? Siapakah pesaing terbaik kita sesungguhnya?

Billi PS Lim pernah mempertanyakan, jika bersaing dengan diri sendiri, dan ternyata kita kalah, siapakah yang menang? Tolong Anda pikirkan, dan cari jawabannya! Ya, diri sendiri adalah pesaing Anda yang terbaik, bukan orang lain. Orang lain hanya sekedar ukuran dan pembanding, tak lebih dari itu. Hal ini bukan berarti jika kita tidak boleh punya daya saing. Kita harus punya daya saing, tapi, sekali lagi bersainglah dengan diri sendiri.

Jika berkompetisi dengan diri sendiri, selain bisa menghindari kekecewaan dan perasaan iri hati melihat kesuksesan orang lain, kita juga bisa menetapkan target/ tujuan yang ingin dicapai sesuai batas kemampuan yang dimiliki. Target bisa ditetapkan secara bertahap. Setelah target pertama dicapai, kita dapat menetapkan dan melangkah pada target berikutnya. Demikian seterusnya, hingga kualitas diri, tanpa disadari makin lama makin meningkat.

Sebaliknya, jika berkompetisi dengan orang lain dengan maksud meniru semua kesuksesannya, paling hebat kita hanya akan menjadi seperti orang yang akan ditiru tersebut. Tapi biasanya, imitator pasti berada di bawah standar. Produk imitasi (tiruan) pasti mempunyai kelemahan dengan produk aslinya. Hasil fotocopy pasti jauh lebih rendah dari naskah aslinya. Begitulah perumpamaan seseorang yang meniru dan bermaksud mengalahkan kesuksesan orang lain. Untuk memulai langkah awal, boleh saja kita mengacu dan meniru kesuksesan orang lain, namun untuk selanjutnya, lebih baik melangkah sesuai batas kemampuan yang dimiliki. Karena setiap orang punya sifat, cara kerja serta kemampuan yang berbeda. Tidak ada manusia yang persis sama. Bahkan, bayi kembar siam pun, memiliki banyak perbedaan dalam berbagai hal. Untuk itu, lebih baik menjadi diri sendiri yang terbaik!

Berkaitan dengan hal di atas untuk mencapai suatu prestasi, lebih baik kita bekerjasama (bekerja bersama-sama) dengan orang lain, bukan berkompetisi dengan mereka. Hal ini sesuai dengan temuan Dr. Robert Helmreich, ahli psikologi Universitas Texas, yang mengatakan bahwa: kerjasama dengan orang lain lebih berhasil daripada bersaing dan menentang orang lain. Dalam bahasa sederhana dapat Saya katakan: target penjualan suatu perusahaan akan lebih mudah dicapai, jika semua tim yang terlibat di dalamnya, dapat bekerjasama dengan baik. Bukan saling mencurigai dan sentimen satu sama lainnya. Sinkronisasi yang solid antara atasan dan bawahan akan mempercepat proses pencapaian tujuan yang ditetapkan perusahaan.

Anda pasti sudah tahu dua pribahasa berikut ini : Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Agaknya kedua pribahasa ini berkaitan dengan hal di atas. Jika membersihkan sampah yang bertebaran di pekarangan rumah dengan satu buah lidi, sangat mustahil dilakukan. Tapi, jika beberapa buah lidi dihimpun menjadi satu untuk dijadikan sapu, sampah yang bertebaran akan lebih cepat dibersihkan. Bukankah lidi juga bersatu dan bekerjasama untuk mempercepat proses pencapaian tujuan?
ui
Sebagai penutup dapat Saya simpulkan. Tulisan ini bukan berarti Saya melarang Anda mengikuti berbagai macam lomba kecerdasan dan pengembangan bakat yang identik dengan persaingan sesama manusia. Begitu juga ketika Anda bersaing dengan orang lain, saat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri, ujian masuk menjadi pegawai negeri dan sejenisnya. Bukan itu maksud Saya sesungguhnya. Saya hanya mencoba menguraikan pentingnya kerjasama dengan orang lain, tanpa bermaksud mengurangi definisi dan tujuan daripada persaingan itu sendiri. Hal ini jelas berbeda konteksnya dengan uraian Saya pada bagian awal tulisan ini, yang mengatakan bahwa kita tidak boleh bersaing dengan orang lain. Tidak etis jadinya, jika kita bekerjasama dengan orang lain untuk menjawab soal-soal (pertanyaan-pertanyaan) yang diberikan dalam ujian seperti dimaksud di atas.

Bahan bacaan:
Buku No Pain No Gain, Karangan Johanes Lim, Ph.D, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2000; Buku Berani Gagal, Karangan Billi PS Lim, Penerbit Pustaka Delapratasa, Jakarta,1998.

BACA JUGA OPINIKU TENTANG Kegagalan DISINI

Jumat, 21 Mei 2010

Pekerjaan



Seorang teman gundah gulana. Wajahnya berselimut duka. Matanya sedikit berkaca-kaca. Lamarannya untuk gadis tercinta, ditolak sang calon mertua. Apa masalahnya? Sang teman hanya kerja serabutan. Tidak punya gaji tetap seperti orang kantoran. Sementara calon mertua, menginginkan anak gadisnya dipersunting seorang karyawan.

Sedih juga melihat nasib sang teman. Dia yang kukenal begitu ulet, tangguh, dan punya kreatifitas tinggi, harus terpinggirkan ketika menyatakan cinta. Tercampakkan oleh sebagian orang yang kurang tepat mendefinisikan "kerja". Kenapa begitu? Bukankah selama ini, sebagian masyarakat kita selalu mengidentikkan "pekerjaan", dengan sosok orang-orang berdasi, punya kantor, punya gaji tetap, punya mobil dan sebagainya? Orang-orang yang berada di luar kategori di atas, meskipun sudah punya penghasilan, sering dianggap belum bekerja. Apakah kita tidak terjebak pada kemasan belaka?

Seorang penjual sembako di pasar tradisional tidak punya kantor, tidak punya dasi, bahkan terkadang jarang mandi (mungkin...he...he..) Sambil berjongkok ria (mancangkuang-red), dengan celana pendek dilengkapi sendal jepit di kakinya, dia menawarkan barang dagangannya. Tapi percayakah kita, jika penghasilannya tiap bulan kadang-kadang bisa melebihi gaji yang diterima seorang staff/ karyawan suatu perusahaan? Bukankah dia juga pekerja?

Tapi apa mau dikata. Palu sudah terlanjur diketuk. Alasan apapun tak bisa ditolerir. Keputusan calon mertua tak bisa diganggu gugat. Meskipun jalinan cinta sudah lama mereka bina, keadaan ini tak mampu mengubah keputusan mutlak sang calon mertua. Akhirnya, temanku makin bingung dalam kesendiriannya. Kubujuk dia sambil berkata, "Sabar, selalu ada jalan keluar dari setiap persoalan". Kasihan.

Menarik membicarakan masalah "pekerjaan" sehubungan dengan kisah teman Saya di atas. Kecenderungan sikap dan berpikir kita selalu mengacu pada orang-orang disekitar kita. Begitu juga mengenai pilihan profesi/ pekerjaan yang akan digeluti dimasa datang. Jika orang tua kita pegawai, kita juga termotivasi untuk jadi pegawai. Jika orang tua kita pedagang, kita juga termotivasi untuk jadi pedagang. Jika orang tua kita presiden, kita juga termotivasi untuk menjadi presiden. (he...he...he). Hal ini lumrah dan sah-sah saja.

Disisi lain, sebagian orang tua terlalu takut jika anaknya kelak tidak mendapatkan pekerjaan yang layak. Maka berlomba-lombalah para orang tua memasukkan anak-anaknya ikut kursus (belajar tambahan). Agar anaknya kelak bisa memenangkan "pertandingan" dalam persaingan bursa kerja yang semakin ketat. Saya tidak mengatakan hal ini tidak bagus. Malahan, saya mendukung orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Namun, alangkah baiknya dalam menuntut ilmu, kita tidak mengabaikan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Sebab menurut Saya, tujuan pendidikan bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan semata. Ada tujuan mulia dari ilmu dan pengetahuan yang kita tuntut, yakni mengubah pola pikir manusia ke arah yang lebih positif, memperbaiki akhlak, mengembangkan bakat, serta menggali potensi yang dimiliki seseorang. Tapi sekarang, bagi sebagian orang, tujuannya memasuki perguruan tinggi, agaknya hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Lalu, begitu hinakah orang-orang yang tidak bekerja? Kenapa masyarakat kita memandang sebelah mata para sarjana yang masih menganggur?

Bagi sebagian orang, apalagi yang sudah berstatus sarjana, tidak punya pekerjaan mungkin sangat memalukan. Apalagi mendengar omelan tetangga dan orang tua yang sedikit memojokkan. Karena tak tahan mendengar sindiran tetangga dan orang tua, berbondong-bondonglah para sarjana melamar kerja ke berbagai instansi yang diinginkannya. Sementara instansi bersangkutan, hanya membutuhkan beberapa orang saja dari ribuan pelamar yang ada. Dan sudah pasti, yang dipilih adalah orang-orang terbaik, dari sekian banyak yang baik. Kecuali jika calon pekerja, dipilih lewat jalur lainnya, seperti kolusi dan nepotisme. Itu lain lagi ceritanya.

Ketika sebagian besar sarjana kasak kusuk mencari kerja, sebagian kecil sarjana lainnya mencoba berdamai dengan keadaan. Mereka memanfaatkan waktu belum bekerja dengan hal-hal positif. Seperti mencari ide yang mungkin dapat dikembangkan. Ide tersebut pada akhirnya dapat dituangkan dalam sebuah karya. Tidak tertutup kemungkinan, jika karya yang dihasilkan bisa dijadikan sumber penghasilan bagi sarjana bersangkutan. Mereka tidak terlalu merisaukan keadaan tidak bekerja. Karena mereka yakin, keadaan ini hanya berlangsung sementara. Mereka tinggalkan sesaat, perlombaan mencari kerja. Karena mereka yakin, tujuan utama mereka kuliah dulu, bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan semata. Dan keadaan sekarang (belum bekerja), bagi mereka bukanlah keadaan sebenarnya.

Menarik memperhatikan pola pikir sebagian kecil sarjana di atas. Tak banyak mungkin yang menyukainya. Padahal, dengan ketenangan berpikir disaat menganggur, biasanya ide-ide segar bermunculan. Perlu disadari bahwa, survei menunjukkan bahwa, faktor kecerdasan seseorang yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan hanya sekitar 20% saja. Selebihnya yakni 80%, ditentukan oleh faktor lainnya seperti kesabaran, ketabahan, keuletan, keinginan bekerjasama dengan orang lain, keberanian menanggulangi risiko dan sebagainya. Tapi sekarang, tampaknya hal ini agak luput dari pengamatan kita. Kecenderungan sekarang, kebanyakan orang terburu-buru meraih sukses. Dan kebanyakan para sarjana berlomba-lomba untuk menjadi pegawai.

Berkaitan dengan hal di atas, sebenarnya kita tidak perlu merisaukan keadaan sekarang yang tidak/ belum bekerja. Masih banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai kesuksesan. Tidak satu jalan ke Roma. Begitu kata orang bijak. Masih banyak tempat untuk berkarya. Tempat untuk mencari duit bukan hanya berada di perkantoran. Jika merasa lelah bersaing dengan pelamar lainnya, sudah saatnya mencoba memutar haluan. Kalau yakin dan percaya, begitu banyak peluang yang bisa diambil seorang sarjana untuk berkarya dan meniti karirnya. Asal mau melakukan dan jeli melihatnya, peluang itu pasti ditemukan.

Jika semua sarjana berlomba-lomba mencari kerja, siapa yang akan menciptakan lapangan kerja? Jawabannya mungkin Anda sudah tahu, yakni orang-orang yang tidak sempat mendapatkan pendidikan tinggi. Mereka terpaksa mengubah nasib dengan melakukan apa saja yang mereka bisa. Karena terlahir dari keluarga tak punya, mereka terpaksa berjuang melakukan apapun untuk melanjutkan hidup. Tak aneh jika membaca riwayat hidup beberapa orang pengusaha sukses, Anda akan menemukan bahwa, beberapa orang di antara mereka, tidak memiliki pendidikan tinggi. Tapi mereka mampu memberikan pekerjaan kepada ribuan sarjana. Lalu, kenapa para sarjana yang punya intelektualitas tinggi, belum mampu (belum banyak) yang mau menciptakan lapangan kerja?

Sebagai penutup, beberapa point dapat Saya kemukakan : Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya. Namun jangan sampai mengaburkan makna dan tujuan sesungguhnya dari ilmu yang kita pelajari tersebut. Letakkanlah definisi pekerjaan/ profesi pada porsi sesungguhnya. Karena pekerjaan, bukan hanya terkait dengan istilah kantor, instansi, perusahaan, dan lain sebagainya. Bagi yang belum bekerja, jangan menyerah, begitu banyak peluang kerja yang bisa diraih. Asal mau melakukan dan tabah menjalaninya, peluang itu pasti ditemukan. Bagi yang sudah bekerja, jalanilah pekerjaan dengan kesungguhan. Namun jika sudah jenuh dengan pekerjaan sekarang, Anda pasti tahu pilihan terbaik lainnya.

Mohon maaf, tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menggurui siapapun juga. Sebab Saya bukanlah seorang konsultan. Saya hanya belajar membagi yang ada dipikiran ini. Keputusan mengenai pilihan dan definisi pekerjaan tetap berada pada diri Anda sendiri. Selamat mengambil keputusan!


BACA JUGA TULISANKU TENTANG Keajaiban Telapak Tangan DISINI



Minggu, 09 Mei 2010

Asmaul Husna


Suatu ketika Saya mendengar ceramah Jumat dari seorang ustad. Beliau mengatakan tidak sedikit tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di langit dan di bumi. Tapi, terkadang manusia tidak bisa melihat tanda-tanda itu. Pada organ tubuh manusia, Allah juga memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya itu. Salah satu organ tubuh dimaksud adalah telapak tangan.

Sejenak Saya merenung, menunggu perkataan sang ustad berikutnya. Sang ustad pun melanjutkan ceramahnya. Beliau mengatakan, dengan melihat telapak tangan, sesungguhnya terdapat makna tersirat, sebagai wujud dari tanda-tanda kebesaran Allah.

“Sekarang. Lihatlah telapak tangan kanan Anda!”, begitu perintah ustad.
“Di sana tertulis sebuah angka arab. Angka arab itu adalah delapan belas”.
“Berikutnya lihat telapak tangan kiri! Di sana juga tertulis sebuah angka arab. Angka arab itu adalah delapan puluh satu.”

Saya jadi berpikir. Ada apa dengan angka delapan belas dan angka delapan puluh satu yang dimaksud sang ustad?
“Kalau kedua angka itu dijumlahkan, hasilnya adalah sembilan puluh sembilan. ( 18 + 81 = 99 ) Sembilan puluh sembilan adalah jumlah sifat-sifat/ nama-nama Allah Yang Maha Agung (Asmaul Husna),” kata Ustad melanjutkan ceramahnya.

Ketika melihat telapak tangan sendiri, Saya juga menemukan hal serupa. Ada angka delapan belas dan angka delapan puluh satu pada telapak tangan kanan dan kiri Saya. Saya mohon Anda juga melihat telapak tangan sendiri! Saya tidak tahu persis, jika hal ini juga berlaku bagi semua manusia dibumi ini. Namun, dari beberapa orang yang langsung Saya temui, pada telapak tangan mereka terlihat "tanda" tersebut. Minimal mirip (mendekati) dengan angka dimaksud.

Akhirnya Saya merenung, memikirkan makna tersirat dari semua ini. Menduga-duga dengan bodoh, bukti kebenaran yang nyata dan pasti ini. Pada imanku yang dangkal tertata sebuah kesimpulan, selain memberikan jasmani nan indah, berupa anggota tubuh yang lengkap dengan panca inderanya, Allah juga telah membekali jiwaku dengan mewariskan sifat-sifat-Nya yang mulia. Ditiupkan-Nya sifat-sifat mulia pada ruhaniku, agar aku senantiasa mengingat, mengamalkan dan mengagungkan Nama-nama-Nya. Sungguh, Maha Sempurna Ciptaan-Mu Ya Allah. Namun, diri ini masih merasa hina dihadapan-Mu?

Sungguh, terlalu sering aku melupakan-Mu. Acap kali Firman-Mu kuabaikan. Jarang sekali perintah-Mu kulakukan. Dan terkadang, larangan-Mu, cukup sering kulakukan. Padahal Firman-Mu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Firman-Mu adalah pedoman hidup sepanjang zaman. Bahkan, sampai roda dunia tak berputar, Firman-Mu kan tetap abadi. Semoga, dengan melihat kembali “goresan” yang ada di telapak tangan ini, semakin membuatku selalu ingat pada-Mu. Menjalankan semua perintah-Mu, meninggalkan segala larangan-Mu. Semogaa….



Bahan Bacaan dan gambar dikutip dari situs di bawah ini
www.islamcan.com/miracles/amazing-marks-on-your-hands.shtml

Minggu, 02 Mei 2010

Trik



Selalu menunda, mengarungi lagi dunia. Selalu menunda, memasuki "dunia maya" (media on line). Selalu menunda, karena enggan berbagi rasa. Selalu menunda, karena hanya ingin jadi "penonton". Tak ingin "dilirik dunia". Tak mau tampil beda. Itulah perasaan yang sering melanda pada hari-hari sebelumnya.

Stooop!!! Tak maukah mencoba jadi "pemain"??? Lakoni peran dari titik nol!!! Tidak penting, berapa kali kamu "jatuh". Sangat penting, berapa kali kamu "bangkit" dari setiap kejatuhan.

Dua paragraf di atas, yang kalimatnya mungkin tidak sesuai dengan standar Ejaaan Yang Disempurnakan (EYD), ditujukan khusus untuk Saya. Bukan untuk pembaca yang terhormat, karena Saya tak ingin menggurui. Justru Saya yang patut dinasehati.

Dihati ini, sedikit penyesalan menghampiri, karena selama ini Saya hanya berada didunia nyata (media off line). Saya terlambat memasuki dunia maya (media on line). Saking asiknya Saya berada pada habitat sesungguhnya, yakni dunia nyata (off line), seorang teman lama, ketika Saya hubungi lewat dunia maya bertanya : "Di mana kamu selama ini?" Dengan enteng Saya menjawab, "selama ini Saya hanya berada di dunia nyata, tak pernah memasuki dunia maya. Teman lama Saya tersenyum. Kami pun bernostalgia lewat dunia maya.

Agak membingungkan ketika baru memasuki dunia maya. Membandingkan kelebihan dan kekurangannya dengan dunia nyata. Sempat beberapa kali terjebak dan tersesat di situs-situs tak berguna. Lambat laun, Saya menyadari, sayang sekali, jika teknologi hanya digunakan untuk hal-hal tak bermakna.

Begitu banyak ilmu dan informasi bermanfaat, yang bisa diperoleh dari internet. Bagi mereka yang selektif memilih informasi, internet bisa menambah wawasan berpikir, menambah ilmu, yang pada akhirnya bisa mengubah perilaku manusia, menuju arah yang lebih positif dan produktif. Yang menarik dan pasti banyak diminati, internet bisa dijadikan lahan untuk cari duit. Baik "rupiah", maupun "dollar". Mengenai tips dan tata cara seputar cari duit di internet, Insya Allah akan Saya uraikan pada posting-posting berikutnya. (Maka sering-seringlah berkunjung ke blog Saya, he..he..he)

Lalu, sedikit tanya muncul lagi di kepala. Pantaskah dunia maya mempertontonkan aib manusia? Layakkah percakapan antara manusia di dunia maya, diketahui manusia lainnya yang baru dikenalnya? Apakah ini yang dinamakan kebebasan informasi/ komunikasi? Inikah yang disebut kebebasan berekspresi? Sungguh, Saya tidak tahu jawabannya. Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang! (he..he..he). Karena Saya bukan ahli komunikasi dan informasi, apalagi ahli teknologi. Yang pasti, Saya bukan anti teknologi.

Kebebasan yang bebas sebebas-bebasnya, menurut Saya bukanlah kebebasan sejati. Kebebasan akal berpikir serta menganalisa logika, kebebasan telinga mendengarkan berita, kebebasan tangan menuliskan kata, kebebasan mulut berbicara, dan kebebasan mata melihat, harus tetap dipertanggungjawabkan nantinya. Dengan demikian, seharusnya pertanggungjawaban bisa membatasi manusia, dari segala macam bentuk perilaku kebebasan yang dilakukannya. Sehingga kebebasan yang dilakukan tidak berubah menjadi "kebablasan". Inilah makna kebebasan sesungguhnya.

Kesimpulan Saya pada akhirnya sederhana saja. Dunia nyata dan dunia maya, punya kekurangan dan kelebihan yang berbeda. Percakapan sesama manusia di dunia nyata, terutama di dunia maya, hendaknya dibatasi oleh etika dan norma agama yang diajarkan, sehingga privacy seseorang tidak dirugikan.

Percakapan manusia di dunia maya (chatting), hendaknya dikelola sedemikan rupa, sehingga pelakunya tidak terjebak pada silang kata yang tak berkesudahan. Mari jadikan "bincang on line" sebagai ajang silaturrahmi.

Bagi yang penasaran dan ingin segera mengetahui tentang tata cara cari duit di internet, yang sempat Saya singgung pada bagian awal tulisan ini, sekilas informasinya bisa Anda baca pada link di bawah ini: Silahkan Klik!!
www.rahasiawebsitepemula.com/?id=babeok"

Mohon maaf pada pembaca yang sempat "singgah" disini, terutama bagi yang sudah sangat senior di dunia blogging, blog ini dari segi bahasa dan tampilannya, masih sangat jauh dari sempurna. Saran dan kritik Saya harapkan!